• Simak informasi singkat tentang Danau Kelimutu dibawah ini (sumber koran Tempo).

    Danau Kelimutu terdapat tiga danau kawah yang dihasilkan lewat proses letusan gunung api Kelimutu yang mempunyai ketinggian 1.650 meter diatas permukaan air laut. Warna ketiga danau tersebut adalah: merah, biru, dan putih. Warna itu berubah-ubah dalam jangka waktu tertentu. Sejumlah ilmuwan menduga perubahan warna itu terjadi karena aktivitas gunung api, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota air, zat kimia terlarut, ganggang, dan pantulan warna dinding dan dasar danau. Dan ilmuwan lain mengatakan bahwa warna danau yang berubah-ubah disebabkan oleh proses geokimia di dasar danau yang menghasilkan kandungan zat kimia tertentu di dalam air. Peralihan warna air menjadi hijau dimungkinkan oleh perubahan komposisi kimia air kawah akibat perubahan gas-gas gunung api atau bisa pula dampak kenaikan suhu. Sedangkan naiknya konsentrasi zat besi dalam fluida menghasilkan warna merah dan cokelat tua. Warna hijau lumut mungkin berasal dari biota jenis lumut. Perubahan warna terjadi akibat erosi dinding atas danau dan dasar kawah yang menyingkap material-material tertentu.

    Data Balai Taman Nasional Kelimutu menunjukkan, selama 1915-2011, Ata Polo mengalami 44 kali perubahan warna, Nua Muri Koo Fai berubah warna 25 kali, dan Ata Mbupu 16 kali bersalin warna. Tak ada jadwal dan pola perubahan yang pasti. Perubahan terkadang menghasilkan warna campuran. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, pada Mei 1997, air Ata Polo berubah warna dari cokelat dan hijau tua menjadi merah hati. Mbupu berubah dari cokelat tua menjadi hijau kecokelatan. Sedangkan Nua Muri Koo Fai berubah menjadi putih telur asin dari biru dan hijau muda. Empat tahun lalu, warna danau hampir seragam hijau. Setahun kemudian, warna berubah menjadi hijau dan hitam. Ketiga danau kawah Kelimutu tersebut diberi nama lokal sesuai dengan keyakinan masyarakat tempat. Danau yang paling dalam, sekitar 127 meter, disebut Tiwu Nua Muri Koo Fai (Danau Pemuda dan Gadis). danau ini seluas 5,5 hektare itu tampak berwarna hijau lumut. Di bagian tenggara terdapat Tiwu Ata Polo alias Danau yang Mempesona sedalam 64 meter dengan luas 4 hektare.  Sekitar setengah kilometer dari puncak, terdapat Tiwu Ata Mbupu (Danau Orang Tua) yang berwarna hijau. Luasnya 4,5 hektare dengan kedalaman 67 meter. Ketiga danau memiliki bentuk, kondisi hidrotermal, dan geokimia yang berbeda.

    Danau ini sangat rawan bila terjadi gempa atau getaran hebat. Kepala Subdirektorat Pengendalian Kerusakan Danau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Syamsuhari, mengatakan dinding pemisah antara Nua Muri Koo Fai dan Ata Polo merupakan bagian yang paling labil karena berupa dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat dan ketinggian 50-150 meter.“Bila terjadi gempa dalam skala besar, kedua danau bisa menyatu,” kata dia. Karena itu, kata Syamsuhari, diperlukan kajian untuk memberikan panduan kepada turis ihwal tempat berlindung ketika berada di sekitar Danau Kelimutu.

    Riset Pasternak 20 tahun lalu menunjukkan Kelimutu termasuk gunung api tipe stratovolcano yang tak banyak mengeluarkan material vulkanis. Gunung ini terakhir kali meletus pada 1968. Aktivitas vulkanis Gunung Kelimutu tercatat 11 kali selama 1830-1996. Adapun perubahan warna air tiga danau itu terjadi sejak letusan pada 1886.

     

Leave a comment

If you want to share your opinion, leave a comment.

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>